Jalan Menuju Keselamatan di Dunia dan Akhirat

jalan menuju selamat dunia dan akhirat, kunci sukses dunia dan akhirat

Semua manusia pasti menginginkan dan bercita-cita ingin hidup dalam keadaan selamat. Pasti tidak ada manusia yang hidup ingin celaka. Kalaupun orang sampai bunuh diri, itupun karena dia yakin bahwa dengan bunuh diri dia dapat terhindar dari sesuatu yang sangat ia takuti. Jelasnya, semua orang ingin selamat, tetapi tidak semua orang mengetahui cara mendapatkan keselamatan itu. Karena tidak tahu jalan mana yang harus ditempuh dalam menuju selamat, maka yang didapati hanyalah celaka dan derita saja.

Islam yang sudah menjadi nama suatu agama, salah satu artinya adalah keselamatan. Artinya, barang siapa ingin selamat, harus masuk islam secara kaffah (menyeluruh). Berbicara tentang keselamatan atau orang-orang yang ingin mendapatkan keselamatan, dalam hadis yang diriwayatkan oleh imam tirmizi yang bersumber dari sahabat Uqbah bin Amr. Ada tiga cara yang harus ditempuh, ialah:

  1. امسك عليك لسانك (Jagalah Lisanmu)
  2. Seluruh anggota tubuh manusia dari ujung rambut kepala sampai ujung kaki, kalau kita amati dan kita teliti, hanya mulutlah satu-satunya anggota tubuh yang paling banyak dipakai. Sejak bangun tidur sampai akan tidur, lisan/mulut senantiasa dipakai. Bahkan dalam tidurpun lisanpun dipakai, yaitu mengigau.

    Begitu banyaknya kerja lisan dan seringnya lisan dipakai, maka kerja lisan harus dibatasi dan harus ada pengendali. Tanpa membatasi dan mengendalikan penggunaan lisan, besar kemungkinan seseorang mendapatkan bahaya apapun bentuknya.

  3. وليسعك بيتك (Luaskan Rumahmu)
  4. Rumah tangga merupakan bentuk masyarakat yang paling kecil di antara bentuk-bentuk masyarakat yang ada. Baik atau buruknya hubungan dalam masyarakat yang paling kecil ini sangat menentukan baik buruknya masyarakat yang lebih besar. Oleh karena itu, menciptakan rumah tinggal yang harmonis, saling asah, asuh dan asih, rumah tangga yang agamis, adalah kewajiban bagi setiap anggota rumah tangga.

    Menurut Al Quran, pemegang kendali kekuasaan rumah tangga adalah suami. Meski demikian, tidak berarti suami harus diktator, bertangan besi dan sebagainya dari sifat-sifat negatif. Tetapi suamu harus bisa bertindak sebagai uswatun hasanah (suri tauladan yang baik), bagi seluruh anggota keluarga dan satu rumah tangga.

    Rasulullah sebagai kepala rumah tangga, sekaligus sebagai suami, tidak pernah perkataan dan perbuatan beliau menyakitkan istrinya. Ini bisa dilihat di kala beliau memanggil istrinya dengan kasih mesra: "Ya Humaira" = Wahai istriku yang pipinya semerah jambu. Terhadap Hasan dan Husain cucunya, sering beliau menciuminya. Dan bahkan bila dalam shalat ternyata cucunya minta pangku atau minta gendong di punggungnya, belia menambah bacaannya, sehingga cucunya merasa aman. Terhadap pelayannya selama kurang lebih 10 tahun Anas bin Malik menyertai beliau dalam suka dan duka, kata Anas: "Selama 10 tahun saya tidak pernah mendengar beliau berkata keras dan tidak pernah belia mencela makanan". Alangkah damai dan harmonisnya rumah tangga rasul itu. Sekiranya setiap rumah tangga muslim dapat meneladani beliau, tidak mustahil akan melahirkan anak yang mempunyai SDM cukup memadai, atau anak yang memiliki sifat dan sikap IMTAQ dan IPTEK (Iman dan taqwa ilmu pengetahuan dan teknologi).

  5. وابك على خطيئتك (Tangisilah Kesalahanmu)
  6. Kata sahabat Ali Karamallahu wajhah: "Mencari manusia yang tidak punya salah, akan ketemu kalau engkau sudah bertemu dengan kuda yang bertanduk".

    Maqalah itu mengandung arti, bahwa mencari manusia yang tidak punya salah mustahil adanya. Tetapi, orang yang mempunyai salah atau dosa itu baik, asal dia mau bertaubat.

    Taubat, artinya kembali ke jalan yang lurus sesudah melakukan perbuatan yang tidak baik. Banyak kita jumpai ayat-ayat Al Quran yang mengharuskan kita mengakhiri perbuatan jelek.